Habar Ulun

Foto Saya
Saya adalah salah satu seorang Mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan S-1 Bahasa Indonesia di salah satu sekolah tinggi di Kotabaru,Kalimantan Selatan. Saat ini, saya lebih aktif untuk melakukan browsing, ngeblog dan sebagainya, karena saya merasa lebih happy dan lebih mendalami bidang ini. Semoga rujukan yang saya kutip dari berbagai sumber ini, dapat bermanfaat bagi kita semua, jika ada yang kurang berkenan, saya sangat memohon kritik dan saran dari Anda, salam dan terima kasih.

Rabu, 01 Mei 2013

Pengertian dan Prosedur Debat


Pengertian

  1. A.    Menurut Asidi dipodjojo (Komunikasi Lisan 1982:59)
Debat adalah proses komunikasi lisan yang dinyatakan dengan bahasa untuk mempertahankan pendapat. Setiap pihak yang berdebat akan menyatakan argumen, memberikan alasan dengan cara tertentu agar pihak lawan berdebat atau pihak lain yang mendengarkan perdebatan itu menjadi yakin dan berpihak padanya.
  1. B.     Menurut ( KBBI. 2002: 242)
Debat adalah pembahasan atau pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.
  1. C.    Menurut G. Sukadi
Debat pada hakekatnya saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia, dengan tujuan mencapai kemenangan.
  1. D.    Menurut Hendri Guntur Tarigan (Retorika 1990:120)
Debat pada hakekatnya adalah saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia, dengan tujuan mencapai kemenangan satu pihak.
  1. Pengertian debat dalam www/wikimedia.foundation.org/
Debat adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan
  1. Unsur-Unsur Debat
Pada www/wikimedia.foundation.org/ di temukan beberapa unsur dalam debat yaitu:
  1. topik debat disebut mosi (motion)
  2. tim Afirmatif (yang setuju terhadap mosi) sering disebut juga Pemerintah (Government),
  3. tim Negatif (yang menentang mosi) disebut Oposisi (Opposition)
  4. pembicara pertama dipanggil sebagai Perdana Menteri (Prime Minister), dan sebagainya
  5. pemimpin/wasit debat (chairperson) dipanggil Speaker of The House
  6. penonton/juri dipanggil Members of the House (Sidang Dewan yang Terhormat)

  1. Macam-Macam Debat
berdebat mengorganisasikan pemunggutan suara untuk menentukan pemenang.
Dalam debat tertutup setiap anggota hanya berbicara satu kali. Oleh karena itu pembicara harus menyiapkan diri dan menyusun jalan pikirannya secara cermat dan teliti. Harus padat dan berisi dalam waktu yang singkat. Sebaliknya dalam debat terbuka, orang dapat berbicara lebih dari satu kali sesudah semua berbicara, kedua pembicara pertama dari masing –masing kelompok mengutarakan kata penutup.
1)      Debat Amerika
Dalam debat amerika dua regu berhadapan, tetapi masing-masing regu menyiapkan tema melalui pengumpulan bahan secara teliti. Dan penyusunan argumentasi yang cermat. Para anggota kelompok debat ini adalah orang-orang yang terlatih dalam seni berbicara. Mereka berdebat di depan sekelompok juri dan publikum.
Debat dimulai, apabila salah seorang anggota regu membuka pembicaraan dengan membuka tesis dan di jawab oleh pembicara pertama dari regu yang kedua. Proses selanjutnya berlangsung apabila setiap anggota regu berbicara dalam urutan yang bergantian dengan anggota regu yang lainnya. Semua anggota dari kedua regu mendapat kesempatan untuk berbicara. Setipa pembicara harus menyampaikan pandangannya mengenai tema dan tesis yang diperdebatkan.
A. Macam-macam debat yang yang ditemukan dari sumber .http://id.wikipedia.org/wiki/Debat yaitu:
  1. Debat kompetitif
adalah debat dalam bentuk permainan yang biasa dilakukan di tingkat sekolah dan universitas. Dalam hal ini, debat dilakukan sebagai pertandingan dengan aturan (“format”) yang jelas dan ketat antara dua pihak yang masing-masing mendukung dan menentang sebuah pernyataan. Debat disaksikan oleh satu atau beberapa orang juri yang ditunjuk untuk menentukan pemenang dari sebuah debat. Pemenang dari debat kompetitif adalah tim yang berhasil menunjukkan pengetahuan dan kemampuan debat yang lebih baik.
  1. Debat perlementer
Debat parlementer dibagi menjadi tiga yaitu:
  1. Debat perlementer Australia (Australian Parliamentary)
Gaya debat ini digunakan di Australia, namun pengaruhnya menyebar hingga ke kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan di Asia, sehingga akhirnya disebut sebagai format Australasian Parliamentary. Dalam format ini, dua tim beranggotakan masing-masing tiga orang berhadapan dalam satu debat, satu tim mewakili Pemerintah (Government) dan satu tim mewakili Oposisi (Opposition), dengan urutan sebagai berikut:
(1). Pembicara pertama pihak Pemerintah – 7 menit
(2). Pembicara pertama pihak Oposisi – 7 menit
(3). Pembicara kedua pihak Pemerintah – 7 menit
(4). Pembicara kedua pihak Oposisi – 7 menit
(5). Pembicara ketiga pihak Pemerintah – 7 menit
(6). Pembicara ketiga pihak Oposisi – 7 menit
(7). Pidato penutup pihak Oposisi – 5 menit
(8). Pidato penutup pihak Pemerintah – 5 menit
Pidato penutup (Reply speech) menjadi ciri dari format ini. Pidato penutup dibawakan oleh pembicara pertama atau kedua dari masing-masing tim (tidak boleh pembicara ketiga). Pidato penutup dimulai oleh Oposisi terlebih dahulu, baru Pemerintah.
Mosi dalam format ini diberikan dalam bentuk pernyataan yang harus didukung oleh pihak Pemerintah dan ditentang oleh Pihak Oposisi, contoh:
(This House believes) That globalization marginalizes the poor.
(Sidang Dewan percaya) Bahwa globalisasi meminggirkan masyarakat miskin.
Mosi tersebut dapat didefinisikan oleh pihak Pemerintah dalam batasan-batasan tertentu dengan tujuan untuk memperjelas debat yang akan dilakukan. Ada aturan-aturan yang cukup jelas dalam hal apa yang boleh dilakukan sebagai bagian dari definisi dan apa yang tidak boleh dilakukan.
Tidak ada interupsi dalam format ini.
Juri (adjudicator) dalam format Australs terdiri atas satu orang atau satu panel berjumlah ganjil. Dalam panel, setiap juri memberikan voting-nya tanpa melalui musyawarah. Dengan demikian, keputusan panel dapat bersifat unanimous ataupun split decision.
Di Indonesia, format ini termasuk yang pertama kali dikenal sehingga cukup populer terutama di kalangan universitas. Kompetisi debat di Indonesia yang menggunakan format ini adalah Java Overland Varsities English Debate (JOVED) dan Indonesian Varsity English Debate(IVED).
  1. Debat perlementer Inggris (British Parliamentary)
Gaya debat parlementer ini banyak dipakai di Inggris namun juga populer di banyak negara. Dalam format ini, empat tim beranggotakan masing-masing dua orang bertarung dalam satu debat, dua tim mewakili Pemerintah (Government) dan dua lainnya Oposisi (Opposition), dengan susunan sebagai berikut:
(1). Opening Government:
a)      Prime Minister
b)      Deputy Prime Minister
(2). Closing Government
a)      Member of the Government
b)      Government Whip
(3). Opening Opposition
a)      Leader of the Opposition
b)      Deputy Leader of the Opposition

(4). Closing Opposition
a)      Member of the Opposition
b)      Opposition Whip

Urutan berbicara adalah sebagai berikut:
(1). Prime Minister – 7 menit
(2). Leader of the Opposition – 7 menit
(3). Deputy Prome Minister – 7 menit
(4). Deputy Leader of the Opposition – 7 menit
(5). Member of the Government – 7 menit
(6). Member of the Opposition – 7 menit
(7). Government Whip – 7 menit
(8). Opposition Whip – 7 menit
  1. Debat perlementer Amerika
Debat parlementer Amerika Serikat diikuti oleh dua tim untuk setiap debatnya dengan susunan sebagai berikut:
(1). Government
a)      Prime Minister (PM)
b)      Member of the Government (MG)
(2). Opposition
a)      Leader of the Opposition (LO)
b)      Member of the Opposition (MO)

  1. Debat parlementer Asia (Asian Parliamentary)
Debat ini dikembangkan dari format Austlals perbedaannya dengan format Australs adalah adanya interupsi (point of information) yang boleh diajukan antara menit pertama dan menit ke emam ( hanya untuk pidato utama tidak pada pidato penutup)
3). Debat Proposal
Dalam gaya Debat Proposal (Policy Debate), dua tim menjadi penganjur dan penentang sebuah rencana yang berhubungan dengan topik debat yang diberikan. Topik yang diberikan umumnya mengenai perubahan kebijakan yang diinginkan dari pemerintah. Kedua tim biasanya memainkan peran Afirmatif (mendukung proposal) dan Negatif (menentang proposal). Pada prakteknya, kebanyakan acara debat tipe ini hanya memiliki satu topik yang sama yang berlaku selama setahun penuh atau selama jangka waktu lainnya yang sudah ditetapkan.
Bila dibandingkan dengan debat parlementer, debat proposal lebih mengandalkan pada hasil riset atas fakta-fakta pendukung (evidence). Debat ini juga memiliki persepsi yang lebih luas mengenai argumen. Misalnya, sebuah proposal alternatif (counterplan) yang membuat proposal utama menjadi tidak diperlukan dapat menjadi sebuah argumen dalam debat ini. Walaupun retorika juga pentin dan ikut mempengaruhi nilai setiap pembicara, pemenang tiap babak umumnya didasari atas siapa yang telah “memenangkan” argumen sesuai dengan fakta pendukung dan logika yang diberikan. Sebagai konsekuensinya, juri kadang-kadang membutuhkan waktu yang lama untuk mengambil keputusan karena semua fakta pendukung harus diperiksa terlebih dahulu.

 4). Debat Lincoln-Douglas
Nama gaya debat ini diambil dari debat-debat terkenal yang pernah dilakukan di Senat Amerika Serikat antara kedua kandidat Lincoln dan Douglas. Setiap debat gaya ini diikuti oleh dua pedebat yang bertarung satu sama lain.
Argumen dalam debat ini terpusat pada filosofi dan nilai-nilai abstrak, sehingga sering disebut sebagai debat nilai (value debate). Debat LD kurang menekankan pada fakta pendukung (evidence) dan lebih mengutamakan logika dan penjelasan.
  1. Syarat-Syarat Susunan Proporsi
  2. Menurut Tarigan (1984: 93-96)
1)      Kesederhanaan
Usul-usul yang rumit dan terbelit-belit menyebabkan analisa yang sukar. Senakin sederhana suatu pernyataan maka semakin bergunalah bagi perdebatan yang sedang berlangsung.
2)      Kejelasan
Pernyataan-pernyataan yang samar-samar dan tidak jelas menimbulkan berbagai ragam penafsiran yang timbul dalam perdebatan yang membingungkan.
3)      Kepadatan
kata-kata hendaklah dipergunakan sesedikit mungkin dan sepadat mungkin. Kepanjanglebaran akan mengakibatkan suatu usul menjadi tidak praktis dan menyebabkan salah pengertian.
4)      Susunan kata afirmatif
Usul yang negatif seakan-akan dapat memutarbalikkan posisi-posisi afirmatif dan negatif. Susunan kata suatu usul hendaknya bersifat afirmatif atau mengiakan; jangan bersifat negatif atau meniadakan.
5)      Pernyataan Deklaratif
Suatu pernyataan yang tegas lebih disukai, lebih baik dari paa suatu pertanyaan. Pertanyaan pada umumnya dipergunakan bahi diskusi karena maksud dan tujuannya adalah menyelidiki.
6)      Kesatuan
Sebuah gagasan yang tunggal sudah cukup bagi satu perdebatan. Misalnya usul “Badan pembuat undang-undang haruslah mengadakan pemilihan wajib dan haruslah membuat registrasi tetap” mengandung dua buah pukuk perdebatan berbeda: “ pemilihan wajib” dan “registrasi tetap.
7)      Usul khusus
Usul-usul yang bersifat umum akan mengakibatkan perdebatan-perdebatan yang terpencar dan tidak memuaskan.Hendaknya usul dibuat se khusus mungkin.
8)      Bebas dari purbasangka
Bahasa yang purbasangka akan memperkenalkan asumsi-asumsi atau pra anggaran yang tidak tepat ke dalam usul.
9)      Tanggung jawab untuk memberikan bukti yang memuaskan terhadap afirmatif.Susunan kata usul hendaknya dibuat sebaik dan secepat mungkin sehingga pembicara afirmatif akan menganjurkan serta menyokong suatu perubahan.

  1. Etiket atau Norma dalam Berdebat dan Bertanya
Menurut Mulgrave (1954: 45) sepeti yang dikutip Tarigan (1984:92-93) semua pembicaraan hendaknya memiliki:
1)      Pengetahuan yang sempurna mengenai pokok pembicaraan
2)      Kopetensi atau kemampuan menganalisis
3)      Pengertian mengenai prinsip-prinsip argumentasi
4)      Apresiasi terhadap kebenaran-kebenaran fakta
5)      Kecakapan menemukan buah pikiran yang keliru dengan penalaran
6)      Keterampilan dalam pembuktian kesalahan
7)      Pertimbangan dan persuasi
8)      Keterarahan, kelancaran, dan kekuatan dalam cara atau penyapaian pidato.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar